Catatan Kecil tentang Ilmu, Jiwa, dan Kehidupan
Kita sering merasa bangga ketika melihat seseorang menguasai banyak ilmu. Gelarnya tinggi, bicaranya teratur, wawasannya luas, dan pendapatnya kerap dijadikan rujukan. Namun, terkadang kita juga menjumpai kenyataan yang membingungkan: seseorang yang berpengetahuan luas ternyata mudah merendahkan orang lain, sulit menerima nasihat, atau menggunakan kepandaiannya untuk memenangkan kepentingan pribadi.
Kenyataan ini mengingatkan kita bahwa kepandaian dan kebijaksanaan tidak selalu tumbuh bersama.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang kebaikan, tetapi belum tentu terbiasa berbuat baik. Ia dapat menjelaskan pentingnya kejujuran, tetapi masih tergoda untuk berdusta. Ia dapat menguraikan keutamaan menghormati orang lain, tetapi merasa dirinya terlalu tinggi untuk mendengarkan orang yang dianggap kurang berilmu.
Di sinilah adab menemukan kedudukannya.
Adab bukan sekadar kemampuan berbicara dengan halus, duduk dengan sopan, atau menggunakan bahasa yang santun. Semua itu penting, tetapi adab memiliki makna yang lebih mendalam. Adab berkaitan dengan kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya: menempatkan ilmu, guru, murid, sesama manusia, tanggung jawab, bahkan diri sendiri secara tepat.
Adab membantu seseorang memahami bukan hanya apa yang boleh dilakukan, tetapi juga apa yang patut dilakukan; bukan hanya apa yang benar menurut pengetahuan, tetapi juga bagaimana kebenaran itu disampaikan dan diamalkan.
Allah Swt. berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam [68]: 4)
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam [68]: 4)
Ayat ini merupakan pujian Allah kepada Nabi Muhammad saw. tentang kemuliaan akhlaknya. Bagi umat Islam, keteladanan Nabi menunjukkan bahwa kemuliaan tidak berhenti pada pengetahuan atau kemampuan berbicara, tetapi harus tampak dalam perilaku dan cara memperlakukan sesama.
Ilmu yang benar semestinya membantu manusia mengenali kebaikan. Adab menuntunnya agar kebaikan itu hadir dalam kehidupan.
Dalam tradisi pesantren, perhatian terhadap adab bukanlah perkara tambahan yang boleh diabaikan setelah pelajaran selesai. Cara santri menghormati guru, menjaga kebersihan, mengantre, menjalankan amanah, menghargai teman, dan menggunakan waktu merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri.
Tentu saja, penghormatan kepada guru tidak berarti guru selalu benar atau tidak boleh dikritik. Adab bukan alasan untuk membungkam pertanyaan. Santri tetap perlu berpikir kritis, memeriksa dalil, dan menyampaikan perbedaan pendapat. Namun, semua itu dilakukan dengan kejujuran, penghormatan, dan niat mencari kebenaran, bukan untuk mempermalukan atau merendahkan.
Begitu pula guru. Kedudukan sebagai pendidik bukanlah izin untuk bersikap sewenang-wenang. Justru semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula tuntutan adab pada dirinya. Guru perlu menjaga lisan, berlaku adil, dan memperlakukan murid sebagai manusia yang sedang tumbuh.
Dengan demikian, adab bukan hanya kewajiban murid kepada guru. Adab adalah tanggung jawab setiap orang sesuai dengan peran dan kedudukannya.
Seorang pemimpin perlu beradab terhadap orang yang dipimpinnya. Seorang ahli perlu beradab terhadap orang yang belum memahami bidangnya. Orang yang lebih tua perlu beradab terhadap yang muda, sebagaimana yang muda belajar menghormati pengalaman orang yang lebih tua.
Seorang pemimpin perlu beradab terhadap orang yang dipimpinnya. Seorang ahli perlu beradab terhadap orang yang belum memahami bidangnya. Orang yang lebih tua perlu beradab terhadap yang muda, sebagaimana yang muda belajar menghormati pengalaman orang yang lebih tua.
Adab tidak menghapus perbedaan kedudukan dan tanggung jawab. Adab justru menjaga agar perbedaan itu tidak berubah menjadi kesombongan atau penindasan.
Lalu, mengapa adab begitu penting dalam perjalanan ilmu?
Sebab, ilmu memberi manusia kemampuan, sedangkan adab membantu mengarahkan kemampuan itu. Tanpa pertimbangan moral, kecerdasan dapat digunakan untuk menipu. Kepandaian berbicara dapat dipakai untuk memanipulasi. Kekuasaan yang didukung pengetahuan dapat berubah menjadi alat untuk menguntungkan diri sendiri.
Sebab, ilmu memberi manusia kemampuan, sedangkan adab membantu mengarahkan kemampuan itu. Tanpa pertimbangan moral, kecerdasan dapat digunakan untuk menipu. Kepandaian berbicara dapat dipakai untuk memanipulasi. Kekuasaan yang didukung pengetahuan dapat berubah menjadi alat untuk menguntungkan diri sendiri.
Sebaliknya, ketika ilmu disertai adab, pengetahuan dapat menjadi sarana pelayanan. Orang yang ahli tidak menggunakan keahliannya untuk mempermalukan orang yang belum tahu. Orang yang berkuasa tidak menggunakan kekuasaannya untuk menuntut penghormatan tanpa batas. Orang yang berbeda pendapat tidak serta-merta dianggap sebagai musuh.
Di dunia pendidikan, hal ini perlu menjadi perhatian bersama. Kita tentu ingin melahirkan generasi yang cerdas, terampil, dan mampu bersaing. Namun, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai ujian, banyaknya gelar, atau tingginya jabatan yang diraih para alumninya.
Kita juga perlu bertanya: apakah mereka menjadi manusia yang dapat dipercaya? Apakah mereka mampu memikul amanah? Apakah mereka menghargai orang lain? Apakah ilmu yang dimiliki membuat mereka lebih peduli terhadap persoalan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itu membantu kita mengingat kembali tujuan pendidikan yang lebih utuh: bukan hanya mengembangkan kemampuan berpikir, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab.
Adab pun tidak tumbuh melalui nasihat semata. Ia tumbuh melalui kebiasaan, lingkungan, dan keteladanan. Anak yang setiap hari melihat kejujuran lebih mudah memahami arti kejujuran. Santri yang menyaksikan gurunya bersikap adil mendapatkan pelajaran yang tidak selalu dapat diberikan melalui ceramah. Murid yang diperlakukan dengan hormat belajar bahwa menghormati orang lain bukanlah tanda kelemahan.
Karena itu, sebelum meminta orang lain memperbaiki adabnya, kita perlu memeriksa adab kita sendiri. Bagaimana kita berbicara kepada orang yang berbeda pendapat? Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak memiliki jabatan? Bagaimana sikap kita ketika dikritik atau ketika melakukan kesalahan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering kali lebih jujur daripada penilaian kita terhadap orang lain.
Pada akhirnya, adab bukan hiasan yang membuat ilmu tampak lebih indah. Adab adalah bagian penting yang menentukan bagaimana ilmu dijalankan dan untuk tujuan apa ia digunakan.
Ilmu membuat kita mengetahui banyak hal. Adab mengajarkan kita bagaimana membawa pengetahuan itu agar tidak melukai, merendahkan, atau merusak kehidupan orang lain.
Maka, belajarlah setinggi mungkin. Kuasailah berbagai bidang ilmu dan
kembangkan kemampuan yang Allah titipkan. Namun, jangan biarkan pertumbuhan pengetahuan berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan akhlak.
Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar yang mampu menyelesaikan persoalan. Dunia juga membutuhkan manusia beradab yang menggunakan kepintarannya untuk menghadirkan kebaikan.
Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar yang mampu menyelesaikan persoalan. Dunia juga membutuhkan manusia beradab yang menggunakan kepintarannya untuk menghadirkan kebaikan.
Dan ilmu yang benar-benar memberi manfaat bukan hanya ilmu yang membuat pemiliknya semakin dihormati, melainkan ilmu yang membuat kehidupan di sekitarnya menjadi lebih baik.
