Kp. Parindang, Cibadak, Lebak, Banten 42357
0817100227 @zamzam.or.id
Pondok Modern Zamzam
PONDOK MODERN ZAMZAM Cibadak, Lebak, Banten

Pendidikan sebagai Jalan Islamisasi Nusantara

 





Oleh: K.H. Dadan Maula Darmawan, Pengasuh Pondok Modern Zamzam, Lebak Banten. Pengurus Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) MUI Pusat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama bertahun-tahun, sejarah masuknya Islam ke Nusantara kerap diringkas dalam satu cerita: Islam datang bersama para pedagang Muslim yang berlayar mengikuti jalur perdagangan. Penjelasan itu tidak sepenuhnya keliru karena pelabuhan memang menjadi ruang penting perjumpaan masyarakat Nusantara dengan dunia Islam. Namun, apakah perdagangan saja cukup menjelaskan bagaimana Islam kemudian mengakar begitu dalam hingga membentuk kehidupan, tradisi, lembaga, dan peradaban masyarakat Nusantara?

Sebuah agama tidak menjadi cara hidup hanya karena pedagang datang membawa komoditas sekaligus memperkenalkan keyakinannya. Agama menjadi hidup ketika ajarannya dipelajari, nilai-nilainya ditanamkan, ibadahnya dipraktikkan, akhlaknya diteladankan, dan pengetahuannya diwariskan kepada generasi berikutnya. Di sinilah pendidikan layak ditempatkan kembali di jantung pembacaan sejarah Islamisasi Nusantara.

Perdagangan Membuka Pintu, Pendidikan Membuat Islam Tinggal

Perdagangan mempunyai peranan besar karena ia membuka pintu perjumpaan antara masyarakat Nusantara dan kaum Muslim dari berbagai kawasan dunia. Namun, perjumpaan belum tentu menghasilkan perubahan cara pandang, apalagi membangun sebuah peradaban yang bertahan berabad-abad. Perubahan itu membutuhkan guru yang mengajar, murid yang belajar, komunitas yang mengamalkan, dan generasi yang meneruskan.

Karena itu, persoalannya seharusnya tidak diletakkan pada pertanyaan dikotomis apakah Islam masuk melalui perdagangan atau pendidikan. Kajian mengenai Islamisasi Asia Tenggara menunjukkan perdagangan, ulama, sufi, perkawinan, politik, budaya, dan pendidikan saling berkelindan dalam proses panjang tersebut. Yang perlu dibedakan justru fungsi masing-masing: perdagangan membuka ruang perjumpaan, sedangkan pendidikan memungkinkan ajaran baru dipahami dan diinternalisasi.

Perspektif tersebut mengubah cara kita memandang Islamisasi secara mendasar. Pedagang dapat memperkenalkan Islam, tetapi seseorang harus menjelaskan syahadat, mengajarkan shalat, mengenalkan Alquran, menerangkan halal dan haram, serta menanamkan adab dalam kehidupan. Ketika pengetahuan itu kemudian diajarkan kepada anak dan cucu, Islam berubah dari sebuah informasi menjadi tradisi yang hidup.

Pelajaran dari Sriwijaya

Salah satu fragmen sejarah yang menarik datang dari hubungan Sriwijaya dengan dunia Islam pada abad kedelapan. Sejumlah kajian mencatat korespondensi penguasa Sriwijaya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, termasuk riwayat tentang permintaan agar dikirim seseorang yang mampu mengajarkan Islam dan menjelaskan hukum-hukumnya. Apabila riwayat ini ditempatkan secara proporsional, kita menemukan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hubungan diplomatik: ada permintaan terhadap pengetahuan.

Tentu, korespondensi tersebut tidak dapat berdiri sendirian sebagai bukti bahwa Islamisasi Nusantara berlangsung semata-mata melalui pendidikan. Ia lebih tepat dibaca sebagai petunjuk bahwa dimensi intelektual dan transmisi pengetahuan telah hadir dalam hubungan awal antara dunia Melayu dan Islam. Justru kehati-hatian semacam ini penting agar keinginan menawarkan perspektif baru tidak membuat kita terjebak pada penyederhanaan sejarah yang lain.

Tetapi ada pertanyaan yang sulit diabaikan dari episode tersebut. Jika seorang penguasa meminta seseorang yang dapat mengajarkan Islam, bukankah itu menunjukkan bahwa sejak masa awal kebutuhan terhadap Islam bukan hanya kebutuhan bertemu dengan Muslim, melainkan juga kebutuhan memahami ajarannya? Sejarah Islamisasi karena itu perlu membaca bukan hanya kapal yang berlabuh, tetapi juga ilmu yang ditinggalkan setelah kapal-kapal itu kembali berlayar.

 

Dari Ṣuffah hingga Pesantren

Untuk memahami kekuatan pendidikan dalam tradisi Islam, kita dapat kembali kepada Ahl al-Ṣuffah di Masjid Nabawi. Ṣuffah tentu bukan universitas modern dan bukan pula pesantren sebagaimana kita mengenalnya hari ini, tetapi di sana tampak prinsip mendasar bahwa pendidikan Islam tidak dipisahkan dari kehidupan. Para sahabat belajar, beribadah, hidup bersama, mendapatkan pembinaan, dan menyaksikan langsung keteladanan Rasulullah SAW.

Ilmu dalam model seperti itu tidak berhenti pada kemampuan mengetahui sesuatu. Ilmu bertemu dengan iman, iman melahirkan amal, amal membentuk akhlak, dan akhlak menemukan puncaknya dalam pengabdian kepada sesama. Pendidikan dengan demikian bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan, tetapi proses membentuk manusia.

Prinsip tersebut kemudian berkembang dalam perjalanan panjang peradaban Islam melalui masjid, halaqah, madrasah, dan pusat-pusat keilmuan. Bentuk kelembagaannya berubah mengikuti tempat dan zaman, tetapi terdapat satu napas yang terus bertahan: ilmu harus dipelajari, dihayati, diamalkan, dan diwariskan. Ketika Islam berkembang di Nusantara, semangat serupa menemukan salah satu bentuknya yang paling kuat dalam pesantren.

 

Pesantren dan Mesin Peradaban

Pesantren bukan sekadar sekolah yang kebetulan memiliki asrama. Masjid menjadi pusat spiritualitas, kiai berperan sebagai guru sekaligus murabbi, santri hidup sebagai komunitas pembelajar, kitab menjadi sumber ilmu, dan kehidupan sehari-hari menjadi laboratorium pembentukan karakter. Di dalam ekosistem itulah ilmu tidak hanya disampaikan, tetapi dijalani.

Kita tentu harus berhati-hati mengatakan pesantren merupakan salinan langsung Ṣuffah karena klaim semacam itu membutuhkan pembuktian sejarah yang jauh lebih spesifik. Namun, keduanya memperlihatkan kesamaan prinsip yang menarik: keberadaan guru, ilmu, kehidupan bersama, pembinaan akhlak, spiritualitas, kaderisasi, dan pengabdian. Kesamaan prinsip itulah yang membuat pesantren dapat dibaca sebagai bagian dari mata rantai panjang tradisi pendidikan Islam.

Di sinilah kekuatan pendidikan terlihat karena pedagang dapat datang dan pergi, kapal dapat kembali berlayar, bahkan pusat perdagangan dapat berpindah mengikuti perubahan zaman. Namun, ketika sebuah masyarakat telah mempunyai guru, murid, lembaga pendidikan, tradisi keilmuan, dan mekanisme kaderisasi, pengetahuan dapat bertahan melampaui usia orang yang pertama kali membawanya. Islam kemudian tidak lagi bergantung kepada pendatang karena masyarakat telah mampu melahirkan ulama dan gurunya sendiri.

 

Islamisasi adalah Pendidikan Manusia

Kita sering berbicara tentang Islamisasi Nusantara seolah-olah yang sedang dibicarakan hanyalah perpindahan keyakinan penduduk dari satu agama kepada agama lain. Padahal, dalam pengertian sosial yang lebih dalam, Islamisasi menyangkut perubahan cara manusia memandang Tuhan, ilmu, moralitas, keluarga, masyarakat, dan tujuan kehidupan. Transformasi sedalam itu hampir mustahil terjadi tanpa proses pendidikan.

Seseorang mungkin mengenal Islam dalam sebuah perjumpaan singkat, tetapi untuk menjadikan Islam sebagai cara hidup ia harus belajar. Ia belajar membaca Alquran, melaksanakan shalat, memahami halal dan haram, mengenal adab, serta membangun hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Ketika semua itu diwariskan kepada anak-anaknya, agama bergerak dari pengetahuan individual menjadi memori kolektif sebuah masyarakat.

Di titik itulah Islamisasi sesungguhnya menjadi proses peradaban. Ilmu melahirkan tradisi, tradisi membutuhkan lembaga, lembaga melahirkan kader, dan kader membawa nilai-nilai itu kembali kepada masyarakat. Pesantren kemudian menjadi salah satu bukti paling kokoh bahwa Islam bertahan di Nusantara bukan semata karena pernah datang, tetapi karena terus diajarkan.

 

Saatnya Mengubah Pertanyaan

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah sebagian pertanyaan ketika membaca sejarah Islam Nusantara. Jangan hanya bertanya dari mana Islam datang dan di pelabuhan mana ia pertama kali hadir, tetapi tanyakan pula siapa yang mengajarkannya, bagaimana masyarakat mempelajarinya, dan di mana pusat-pusat pembelajaran Islam pertama tumbuh. Pergeseran pertanyaan tersebut membawa kita dari sejarah kedatangan menuju sejarah transmisi ilmu.

Kita juga tidak perlu menyingkirkan perdagangan untuk mengangkat pentingnya pendidikan. Sejarah justru menunjukkan Islamisasi Nusantara merupakan proses kompleks tempat perdagangan, dakwah, tasawuf, perkawinan, politik, budaya, dan pendidikan saling berhubungan. Namun, dari seluruh jaringan itu, pendidikan mempunyai kekuatan khusus karena melalui pendidikan sebuah ajaran dapat melampaui satu perjumpaan dan hidup lintas generasi.

Maka, kalimat yang lebih adil terhadap sejarah bukanlah "Islam masuk Nusantara melalui perdagangan" ataupun sebaliknya, "Islam masuk Nusantara bukan melalui perdagangan". Perdagangan membuka ruang perjumpaan, tetapi pendidikan mengubah perjumpaan menjadi pengetahuan; pengetahuan melahirkan tradisi, tradisi melahirkan lembaga, dan lembaga ikut membangun peradaban. Tanpa pendidikan, Islam mungkin tercatat sebagai salah satu episode kedatangan bangsa-bangsa asing, tetapi melalui pendidikan Islam menemukan rumahnya di Nusantara.

Pada akhirnya, sejarah ini meninggalkan pertanyaan yang sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Jika dahulu pendidikan mampu mengubah sebuah perjumpaan menjadi tradisi dan kemudian peradaban, mengapa pendidikan Islam sekarang harus puas hanya menghasilkan manusia yang lulus ujian dan memperoleh ijazah? Warisan terbesar Ṣuffah dan pesantren justru mengingatkan kita bahwa pendidikan Islam mempunyai tugas yang jauh lebih berat: mendidik manusia, mentransmisikan ilmu, membentuk akhlak, melahirkan kader, dan pada akhirnya mengubah masyarakat.

 


https://analisis.republika.co.id/berita/tjx29n451/pendidikan-sebagai-jalan-islamisasi-nusantara-part4

Kembali ke Halaman Utama